Kamis, 24 Desember 2009

Fokuslah Bila Ingin Hebat

Jika Anda ingin menjadi master di bidang tertentu ingatlah kata-kata ini: berfokuslah pada satu hal atau keterampilan dengan kesetiaan tanpa henti untuk terus melakukan perbaikan, dan berkeinginan kita menjadi yang terbaik.

Fokus, perbaikan tiada henti dan keinginan kuat menjadi yang terbaik adalah bahan bakar utama untuk menjadi seorang spesialis. Dan sebagian mayoritas orang besar berasal dari seorang spesialis.

B.J. Habibie adalah seorang spesialis di bidang pesawat terbang. Apakah kesuksesannya murni merupakan karunia alam? Tentu saja jawabannya tidak. Ia mengambil apa yang diberikan alam kepadanya dan menjalankan formula tadi; fokus ditambah perbaikan terus tiada henti dan keinginan kuat untuk menjadi yang terbaik.

Lelaki kelahiran Pare-Pare ini tidak ingin menjadi yang terbaik di lima bidang yang berbeda. Misalnya, ia tidak ingin ahli di bidang kereta api atau kendaraan beroda empat. Mantan Presiden RI ketiga ini hanya ingin hebat pada bidang pesawat terbang.
Dan ia berhasil.

Michael Jordan fokus pada basket. Cristiano Ronaldo fokus pada sepakbola. Muhamad Yunus fokus pada microfinance. Bill Gates fokus pada software evelopment computer, Dedi Mizwar fokus pada film. Yusuf Mansur fokus pada ilmu sedekah. Hermawan Kertajaya fokus pada dunia marketing. Mereka dan banyak orang lainnya tidak memecah fokus yang ditekuninya. Dan mereka berhasil.

Thomas A Edison mendaftarkan 1.093 paten. Ia juga menemukan bola lampu hingga gramofon. Lelaki yang pernah dicap idiot oleh gurunya ini tidak mencoba untuk menjadi pedagang besar, penyair terkenal, dan musisi ternama. Ia hanya berfokus pada penemuan-penemuannya. Ia juga memperbaikinya setiap hari. Dan selalu terdorong untuk menjadi penemu hebat dan memberi manfaat bagi dunia.

Selanjutnya, ia membiarkan waktu yang menciptakan keajaiban. Dan ternyata, keberhasilan mengetuk pintu bagi orang-orang yang memang fokus pada bidangnya. Mereka para spesialis.

Mungkin Anda ingat akan kisah Pablo Picasso. Suatu hari, seorang wanita melihatnya di pasar dan ia mengambil secarik kertas. ”Tuan Picasso, saya adalah penggemar Anda. Maukah Anda menggambar sedikit untuk saya?”

Picasso dengan gembira memenuhi permintaan itu dan menggoreskan sebentuk seni di atas kertas yang diberikan. Sambil tersenyum ia mengembalikan kertas itu sambil berkata, ”Nilai kertas ini bisa jutaan dolar lho.” Wanita itu bingung dan berkata, ”Tapi tuan Anda hanya perlu waktu 30 detik untuk menghasilkan mahakarya ini.” Sambil tertawa Picasso menjawab, ”Saya membutuhkan waktu 30 tahun agar dapat menghasilkan mahakarya dalam waktu 30 detik.”

Ketahuilah apa kelebihan Anda. Temukan talenta Anda, lalu berusaha keras sekuat tenaga untuk memoles talenta Anda. Ketahuilah apa yang menjadi bagian terbaik dalam hidup Anda. Anda sangat ahli dan menyenangi hal itu. Bahkan Anda terkadang gelisah ketika Anda tidak melakukan hal itu.

Mungkin Anda seorang komunikator yang jago bergaul. Mungkin Anda ahli dalam hal memperlancar keadaan. Mungkin Anda seorang inovator yang mampu melahirkan sesuatu yang baru. Mungkin Anda orang yang tekun menjalankan bisnis walau hasilnya kecil namun volumenya besar. Atau Anda seorang yang ahli memberikan nilai tambah sehingga Anda mampu menjual produk yang sama namun dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Temukan kelebihan Anda, lalu kembangkan. Fokuslah pada kelebihan Anda dan terus menerus diasah, lakukan perbaikan terus menerus, dan berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang Anda. Saya yakin tak lebih sepuluh tahun dari sekarang Anda akan menjadi orang yang hebat di bidang Anda. Mungkin orang akan membicarakan atau menulis tentang Anda.

Mari bertaruh dengan saya. Jika Anda sudah menemukan talenta Anda dan mencurahkan waktu setiap hari untuk mengasah talenta itu dan terus menerus memperbaikinya serta berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang itu, tak lebih dari 10 tahun yang akan datang Anda telah menjadi seorang yang hebat.

Ketika itu bawalah hadiah kepada saya, karena saya telah memenangkan pertaruhan ini. Bila Anda gagal, itu karena Anda ingin hebat di semua hal sehingga fokus Anda pecah. Akhirnya Andapun tak mendapatkan semua hal itu. (***)

Penulis: Jamil Azzaini
Sumber: http://www.antaranews.com/jeda/?i=1261140508
Senin, 21 Desember 2009

Menghargai Anak Sebagai Individu

Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau.
Dan walaupun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.
Kau dapat memberi mereka cinta kasihmu tapi tidak pikiranmu.
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri.

Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya.
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan,
Yang tiada dapat kau sambangi,
Bahkan tidak dalam impian-impianmu

Kau boleh berusaha seumpama mereka,
Tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin

Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan


Puisi tersebut menyiratkan bahwa setiap anak terlahir sebagai individu yang unik dan bebas mengekspresikan dirinya. Walaupun orang tua tidak bisa merumahkan jiwa mereka, orang tua dapat menjalankan peran dan tugasnya sebagai pembimbing anak agar keunikan dan potensi anak dapat distimulasi dengan tepat.

Setiap anak adalah amanah dari Yang Mahakuasa. Peran dan tugas orang tua sebagai pembawa amanah, tentunya membutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang cara menjaga amanah dengan baik dan memberikan bimbingan yang tepat. Beratnya beban dan tanggung jawab sebagai orang tua terkadang secara tidak disadari membuat orang tua lupa bahwa anak-anaknya adalah individu yang unik. Individu yang perlu mendapatkan pembimbingan dan dihargai sebagai pribadi, bukan dibatasi kesempatannya untuk mengembangkan diri ataupun dipaksa menjadi orang lain.

Harapan orang tua tentang keberhasilan anak di masa depan adalah harapan yang sangat manusiawi. Setiap orang tua tentunya berharap anaknya meraih keberhasilan dalam kehidupan mereka di masa depan. Namun, orang tua sering lupa bahwa keberhasilan anak di masa depan, sejatinya adalah keberhasilan yang datang dari kebahagiaan anak. Artinya, orang tua tidak dapat memaksakan kehendak atau cita-cita pribadi agar diwujudkan oleh anak.


Paksaan = beban


Sering kita dengar keluhan anak bahwa ia memilih suatu jurusan tertentu di pendidikannya atau mengikuti kursus dan les tertentu karena disuruh orang tua, padahal ia tidak sungguh-sungguh menyukai jurusan, kursus, ataupun les tersebut. Terdapat banyak kasus di mana orang tua membebankan cita-cita orang tua yang tidak tercapai kepada anaknya dan berharap anak mampu meraih cita-cita orang tua tersebut.

Keterpaksaan yang dijalani anak karena tuntutan orang tua, tentunya tidak membawa kebahagiaan bagi anak. Ia akan mengalami banyak kesulitan melakukan hal-hal yang dituntutkan padanya karena ia tidak betul-betul menikmati situasi tersebut. Ketika ini terjadi, tentunya anak tidak akan dapat sungguh-sungguh mencapai prestasi yang diharapkan orang tua.

Di satu sisi, ini akan menjadi beban bagi anak karena ia merasa tidak menyukai kegiatan itu dan melakukannya dengan keterpaksaan. Beban ini tentunya dapat berdampak pada berbagai sisi lain dalam kehidupan mereka. Orang tua mungkin akan mengeluhkan bahwa anak menjadi mudah marah atau memberontak terhadap tuntutan orang tua. Di sisi lain, anak mungkin tidak dapat mencapai prestasi optimal dan berpeluang menumbuhkan perasaan bersalah pada diri anak karena ia tidak mampu memenuhi keinginan orang tua.

Bagi orang tua, ketidakmampuan anak bisa dimaknakan sebagai kurangnya usaha dari anak untuk mencapai prestasi maksimal. Mungkin orang tua menjadi lupa bahwa anak tidak benar-benar menyukai kegiatan tersebut. Orang tua bisa jadi semakin menuntut anak untuk berprestasi lebih maksimal. Tindakan ini berpeluang menimbulkan konflik pada aspek-aspek lain dalam kehidupan anak.

Penghargaan

Tuntutan berlebihan dari orang tua dan keterpaksaan yang dilakukan oleh anak ini, tentunya akan menyulitkan bagi orang tua maupun anak. Oleh karena itu, perlu kiranya orang tua melakukan perenungan kembali mengenai apa tujuan pendidikan yang akan dilakukan oleh orang tua pada anak-anak mereka. Dalam hal ini, penghargaan terhadap anak adalah unsur utama yang harus dipertimbangkan sebagai jembatan untuk mengantar mereka mengikuti pendidikan yang mereka sukai.

Seyogianya, orang tua menjalankan perannya sebagai pembimbing bagi anak. Dalam arti, penghargaan pada anak juga diarahkan pada penghargaan terhadap pilihan anak atas suatu kegiatan tertentu dengan tetap memberikan pengarahan yang dibutuhkan.

Dalam perannya sebagai pembimbing, orang tua hendaknya menjadi sumber informasi tentang berbagai jurusan, kegiatan kursus dan les yang dapat menstimulasi perkembangan anak dengan lebih baik. Orang tua juga hendaknya menjadi sumber informasi mengenai profesi, cita-cita yang dapat dipilih anak, peran dan tanggung jawab profesi tersebut serta prospeknya di masa depan. Tentunya ini dilakukan tanpa unsur memaksa anak untuk memilih salah satu yang orang tua inginkan. Pilihan ada di tangan anak, tetapi orang tua tetap memberikan bimbingan dan diskusi tentang berbagai alternatif tersebut.

Menghargai anak sebagai individu, juga dapat dilakukan oleh orang tua dengan senantiasa mendengarkan keluhan dan pendapat anak. Keluhan yang disampaikan anak kepada orang tua adalah cermin bahwa orang tua dipandang sebagai pribadi yang kompeten oleh anak sehingga patut dimintai pendapat. Selain itu, orang tua juga dipandang sebagai orang terdekat sehingga anak merasa nyaman berkeluh kesah pada orang tuanya karena yakin bahwa orang tua akan membantu.

Di sisi lain, orang tua juga patut menghargai pendapat anak. Sesederhana apa pun pendapat anak jika orang tua mendengarkan dan memberikan respons positif, tentunya akan dimaknai sebagai penghargaan oleh anak. Penghargaan ini akan menumbuhkan rasa bangga pada diri anak bahwa ia dianggap kompeten oleh orang tua dan anak akan merasakan bahwa ia dihargai. Relasi mutualisme ini akan memupuk saling pengertian antara orang tua dan anak sehingga potensi konflik di usia remaja dapat sedikit diminimalisasi.

Menghargai anak sebagai individu adalah juga menghargai minat dan potensi yang dimilikinya. Tidak sepatutnya orang tua melakukan pembandingan kemampuan anak yang satu dengan anak lainnya karena sesungguhnya tiap anak lahir dengan potensi dan kemampuan berbeda. Stimulasilah anak sesuai dengan arah minat dan potensinya. Sangatlah bijak jika orang tua tidak menuntut anak melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan anak. Tidak semua anak harus menjadi juara I, tapi semua anak harus menjadi diri sendiri yang memiliki potensi yang distimulasi dengan baik.

Menghargai anak sebagai individu adalah juga menghargai kepribadiannya yang unik. Ada anak yang mudah tersentuh emosinya, ada anak yang memiliki empati yang tinggi, ada anak yang rasional, ada anak yang sedikit keras kepala, dan sebagainya. Pribadi-pribadi unik ini perlu mendapatkan pembimbingan yang tepat dan bersifat individual. Bimbingan untuk anak yang satu belum tentu cocok untuk anak yang lain. Oleh karena itu, pemahaman karakter tiap anak adalah penting untuk dapat membantu tumbuh kembang anak menjadi jauh lebih baik. Pahamilah kelebihan dan kekurangan tiap anak sehingga pendekatan yang akan dilakukan orang tua pada tiap anak menjadi bersifat eksklusif dan personal.

Kau boleh berusaha seumpama mereka,
Tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin

Semoga kita mampu merenungi kembali peran dan tanggung jawab yang telah kita lakukan sebagai orang tua untuk membantu perkembangan anak seoptimal mungkin dan tetap menghargai mereka sebagai individu. Kita harus mencoba untuk kembali meluruskan tujuan pendidikan yang akan kita berikan pada anak. Satu hal utama yang harus selalu kita ingat adalah pendidikan tersebut akan menjadi bekal bagi hidup anak di masa depan. Sehingga minat dan kemampuan serta kebahagiaan anak adalah jembatan utama untuk mengantar mereka mendapatkan pendidikan terbaik bagi mereka. Semoga kita mampu menjadi orang tua yang menghargai keunikan mereka. (Ihsana Sabriani.B/Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba)***
Minggu, 20 Desember 2009

Menghargai Anak Sebagai Individu


Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau.
Dan walaupun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.
Kau dapat memberi mereka cinta kasihmu tapi tidak pikiranmu.
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri.

Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya.
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan,
Yang tiada dapat kau sambangi,
Bahkan tidak dalam impian-impianmu

Kau boleh berusaha seumpama mereka,
Tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin

Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan

Kenapa Banyak Orang Ingin Jadi PNS ?

Judul tersebut masih menjadi tanda tanya besar bagi saya. Selama ini saya lebih sering ketemu dengan orang-orang yang sangat berminat untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan alasan jaminan hari tua, mereka beralasan seolah-olah masa depan sudah ‘aman dan nyaman’ dengan menjadi PNS. Jarang sekali bahkan hampir tidak pernah saya jumpai orang yang sama sekali tidak berminat menjadi PNS.

Begitulah memang seperti yang dikatakan pleh para pebisnis “watak orang Indonesia, merasa terbuai dengan’kenyamanan’”

Ada beberapa alasan mengapa orang ingin menjadi Pegawai pemerintah, antara lain:

- Aman dan Nyaman, karena kalau di swasta katanya nanti bisa nggak dipakai orang lagi, dipecat, dlsb. Motivasi ini jelas bibit dari sifat PGPS (pinter goblok pendapatan sama). Kalau jadi PNS aman, gak bakalan dipecat mau segoblok apa juga. Mau kerja rajin, mau kerja malas, mau kreatif atau dongok, tetap aman dah.

- Pensiun, ini cukup make sense dan manusiawi, tapi apa mereka tidak tahu bahwa perusahaan2 swasta pun banyak yang memiliki program dana pensiun, dan kenapa tidak setinggi itu animo untuk bekerja di swasta? mungkin kembali ke poin di atas.

- Mau jadi kaya, nah ini nih… jarang diungkapkan, tapi kalau mau disurvey secara jujur inilah motivasi utama mayoritas orang yang mau jadi PNS.

- Kebanggaan, hmm… mungkin juga, meskipun saya gak tahu di mana harus bangganya. Memang ada beberapa profesi yang membanggakan atau menurut saya mereka patut bangga dengan itu seperti peneliti ilmiah, dosen, guru (salut untuk yang ini) atau profesi2 yang memang membutuhkan kompetensi tinggi, untuk profesi-profesi seperti ini tentunya tidak berlaku “if I am just a little bit dumber, then I will be a PNS”. Tapi yang lainnya, bangga??

7-8 tahun lalu, di sebuah artikel di harian Kompas, saya baca tulisannya Alm Romo Mangun, doi menulis tentang sistem kependidikan kita dan kenapa orang begitu berminat menjadi PNS (birokrat). Rupanya, menurut analisis doi, kita ini masih mewarisi mental inlander dari jaman kolonial dulu, di mana orang dididik untuk menjadi patuh dan taat pada pemerintah sehingga bisa menjadi ambtenaar (PNS di jaman kolonial). Menjadi ambtenaar itu jabatan terhormat di masyarakat waktu itu, dan rupanya masih terbawa hingga sekarang.

Yang juga masih terbawa adalah paradigma bahwa mereka adalah bagian dari kekuasaan (penguasa), bukan pelayan rakyat atau pembayar pajak.

Sehingga, kata Romo Mangun, pernah ada penelitian tentang cita-cita pelajar di dunia. Di Amrik, jika ditanya cita-citanya, para pelajar di sana mengatakan mereka ingin menjadi pengusaha, eksekutif perusaahaan multi nasional, pengacara, dll. Di Iran, pelajarnya ingin menjadi ulama dan tokoh syiah. Di Indonesia, pelajarnya ingin menjadi PNS. (http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8637372&postID=110309410688468840)

Anehnya lagi, banyak orang yang rela membuang-buang hartanya demi PNS ! Banyak dari mereka rela mengeluarkan uang hingga seratus juta rupiah ! ( ini nggak masuk di logika saya)

Di tengah kritik inefisiensi birokrasi, pemerintah malah menambah jumlah PNS sebanyak 200.000 orang. Busyet dah. Total jumlah PNS di Indonesia sekitar 4 juta orang, artinya 1 dari 50 orang penduduk republik ini adalah PNS.

Seorang teman yang jadi PNS di suatu kelurahan di Kepri pernah menyatakan bahwa inefisiensi sistem pemerintahan itu terlalu tinggi, jika sistem dibenahi (tanpa dukungan IT) kelurahan tersebut cukup dilayani 3-4 orang pegawai saja, sedangkan saat itu jumlah PNSnya 12 orang.

Sebetulnya kritik inefisiensi terhadap PNS itu tidak bisa dibuat sama rata, karena ada beberapa sektor yang sebetulnya masih sangat butuh tenaga, misalnya guru, dokter, dll. Inefisiensi lebih kepada PNS yang menjalankan roda birokrasi, seperti yang ada di kelurahan, kecamatan, dinas-dinas, dll.

Gue heran akan motivasi yang begitu tinggi untuk menjadi PNS di tengah kondisi saat ini, di mana kompetensi kurang dihargai, korupsi yang begitu parah, nepotisme yang sudah menjadi budaya dan not to mention the low salary. Kalau dipikir dengan hukum ekonomi kayanya gak make sense sama sekali. Karena pengorbanan yang harus dikeluarkan besar sekali, untuk pekerjaan yang… Padahal di swasta banyak sekali pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa perlu pengorbanan sebesar itu.ÂÂ

Imam Hasan Al Banna pernah berkata, “Sesempit-sempitnya rezeki adalah PNS”

Kita juga tahu bahwa gaji PNS adalah kecil, tapi kata seorang peminat PNS beralasan “Kita kan bisa hidup sederhana, kita juga bisa cari tambahan lain”

Hmmm…bukan berarti saya anti dengan Pegawai pemerintah alias PNS, tapi…saya lebih tertarik menjadi ‘bosnya PNS’ :D

Pilih mana: Berpenghasilan tetap atau tetap berpenghasilan ?

Sabtu, 19 Desember 2009

Sedekah yang Utama

Shadaqah adalah baik seluruhnya, namun antara satu dengan yang lain berbeda keutamaan dan nilainya, tergantung kondisi orang yang bersedekah dan kepentingan proyek atau sasaran shadaqah tersebut. Di antara shadaqah yang utama menurut Islam adalah sebagai berikut:

1. Shadaqah Sirriyah

Yaitu shadaqah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Shadaqah ini sangat utama karena lebih medekati ikhlas dan selamat dari sifat pamer. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:271)

Yang perlu kita perhatikan di dalam ayat di atas adalah, bahwa yang utama untuk disembunyikan terbatas pada shadaqah kepada fakir miskin secara khusus. Hal ini dikarenakan ada banyak jenis shadaqah yang mau tidak mau harus tampak, seperti membangun sekolah, jembatan, membuat sumur, membekali pasukan jihad dan lain sebagainya.

Di antara hikmah menyembunyikan shadaqah kepada fakir miskin adalah untuk menutup aib saudara yang miskin tersebut. Sehingga tidak tampak di kalangan manusia serta tidak diketahui kekurangan dirinya. Tidak diketahui bahwa tangannya berada di bawah, bahwa dia orang papa yang tak punya sesuatu apa pun.Ini merupakan nilai tambah tersendiri dalam ihsan terhadap orang fakir.

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alihi wasallam memuji shadaqah sirriyah ini, memuji pelakunya dan memberitahukan bahwa dia termasuk dalam tujuh golongan yang dinaungi Allah nanti pada hari Kiamat. (Thariqul Hijratain)

2. Shadaqah Dalam Kondisi Sehat

Bersedekah dalam kondisi sehat dan kuat lebih utama daripada berwasiat ketika sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan tipis harapan kesembuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Shadaqah yang paling utama adalah engkau bershadaqah ketika dalam keadaan sehat dan bugar, ketika engkau menginginkan kekayaan melimpah dan takut fakir. Maka jangan kau tunda sehingga ketika ruh sampai tenggorokan baru kau katakan, "Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian." (HR.al-Bukhari dan Muslim)

3. Shadaqah Setelah Kebutuhan Wajib Terpenuhi

Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. 2:219)

Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Tidak ada shadaqah kecuali setelah kebutuhan (wajib) terpenuhi." Dan dalam riwayat yang lain, "Sebaik-baik shadaqah adalah jika kebutuhan yang wajib terpenuhi." (Kedua riwayat ada dalam al-Bukhari)

4. Shadaqah dengan Kemampuan Maksimal

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alihi wasallam,
"Shadaqah yang paling utama adalah (infak) maksimal orang yang tak punya. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu." (HR. Abu Dawud)

Beliau juga bersabda,
"Satu dirham telah mengalahkan seratus ribu dirham." Para sahabat bertanya," Bagaimana itu (wahai Rasululullah)? Beliau menjawab, "Ada seseorang yang hanya mempunyai dua dirham lalu dia bersedakah dengan salah satu dari dua dirham itu. Dan ada seseorang yang mendatangi hartanya yang sangat melimpah ruah, lalu mengambil seratus ribu dirham dan bersedekah dengannya." (HR. an-Nasai, Shahihul Jami')

Al-Imam al-Baghawi rahimahullah berkata, "Hendaknya seseorang memilih untuk bersedekah dengan kelebihan hartanya, dan menyisakan untuk dirinya kecukupan karena khawatir terhadap fitnah fakir. Sebab boleh jadi dia akan menyesal atas apa yang dia lakukan (dengan infak seluruh atau melebihi separuh harta) sehingga merusak pahala. Shadaqah dan kecukupan hendaknya selalu eksis dalam diri manusia. Rasululllah shallallahu ‘alihi wasallam tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuyang keluar dengan seluruh hartanya, karena Nabi tahu persis kuatnya keyakinan Abu Bakar dan kebenaran tawakkalnya, sehingga beliau tidak khawatir fitnah itu menimpanya sebagaimana Nabi khawatir terhadap selain Abu Bakar. Bersedekah dalam kondisi keluarga sangat butuh dan kekurangan, atau dalam keadaan menanggung banyak hutang bukanlah sesuatu yang dikehendaki dari sedekah itu. Karena membayar hutang dan memberi nafkah keluarga atau diri sendiri yang memang butuh adalah lebih utama. Kecuali jika memang dirinya sanggup untuk bersabar dan membiarkan dirinya mengalah meski sebenarnya membutuhkan sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan juga itsar (mendahulukan orang lain) yang dilakukan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin.” (Syarhus Sunnah)

5. Menafkahi Anak Istri

Berkenaan dengan ini Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Seseorang apabila menafkahi keluarganya dengan mengharapkan pahalanya maka dia mendapatkan pahala sedekah." ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda,
"Ada empat dinar; Satu dinar engkau berikan kepada orang miskin, satu dinar engkau berikan untuk memerdekakan budak, satu dinar engkau infakkan fi sabilillah, satu dinar engkau belanjakan untuk keluargamu. Dinar yang paling utama adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu." (HR. Muslim).



6. Bersedekah Kepada Kerabat

Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu memiliki kebun kurma yang sangat indah dan sangat dia cintai, namanya Bairuha'. Ketika turun ayat,
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai." (QS. 3:92)

Maka Abu Thalhah mendatangi Rasulullah dan mengatakan bahwa Bairuha' diserahkan kepada beliau, untuk dimanfaatkan sesuai kehendak beliau. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam menyarankan agar ia dibagikan kepada kerabatnya. Maka Abu Thalhah melakukan apa yang disarankan Nabi tersebut dan membaginya untuk kerabat dan keponakannya.(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alihi wasallam juga bersabda,
"Bersedakah kepada orang miskin adalah sedekah (saja), sedangkan jika kepada kerabat maka ada dua (kebaikan), sedekah dan silaturrahim." (HR. Ahmad, an-Nasa'i, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Secara lebih khusus, setelah menafkahi keluarga yang menjadi tanggungan, adalah memberikan nafkah kepada dua kelompok, yaitu:

  • Anak yatim yang masih ada hubungan kerabat, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,
    ”(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang masih ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS. 90:13-16)
  • Kerabat yang memendam permusuhan, sebagaimana sabda Nabi,
    "Shadaqah yang paling utama adalah kepada kerabat yang memendam permusuhan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzai, Shahihul jami')

7. Bersedekah Kepada Tetangga

Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam surat an-Nisa' ayat 36, di antaranya berisikan perintah agar berbuat baik kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh. Dan Nabi juga telah bersabda memberikan wasiat kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,
"Jika engkau memasak sop maka perbanyaklah kuahnya, lalu bagilah sebagiannya kepada tetanggamu." (HR. Muslim)

8. Bersedekah Kepada Teman di Jalan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang untuk keluarganya, dinar yang dinafkahkan seseorang untuk kendaraannya (yang digunakan) di jalan Allah dan dinar yang diinfakkan seseorang kepada temannya fi sabilillah Azza wa Jalla." (HR. Muslim)

9. Berinfak Untuk Perjuangan (Jihad) di Jalam Allah

Amat banyak firman Allah subhanahu wata’ala yang menjelaskan masalah ini, di antaranya,
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah.” (QS. 9:41)

Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. 49:15)

Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Barang siapa mempersiapkan (membekali dan mempersenjatai) seorang yang berperang maka dia telah ikut berperang." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Namun perlu diketahui bahwa bersedekah untuk kepentingan jihad yang utama adalah dalam waktu yang memang dibutuhkan dan mendesak, sebagaimana yang terjadi pada sebagian negri kaum Muslimin. Ada pun dalam kondisi mencukupi dan kaum Muslimin dalam kemenangan maka itu juga baik akan tetapi tidak seutama dibanding kondisi yang pertama.

10. Shadaqah Jariyah

Yaitu shadaqah yang pahalanya terus mengalir meskipun orang yang bersedekah telah meninggal dunia. Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Jika manusia meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; Shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaat dan anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim).

Di antara yang termasuk proyek shadaqah jariyah adalah pembangunan masjid, madrasah, pengadaan sarana air bersih dan proyek-proyek lain yang dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Sumber: Buletin “Ash-Shadaqah fadhailuha wa anwa’uha”, Ali bin Muhammad al-Dihami.

Kamis, 17 Desember 2009

Siapa menjamin umur sampai Dzuhur?

بِســمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيـم

Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

Teruntuk saudara-saudaraku yang telah Ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dien, dan Nabi Muhammad sebagai Nabi Rasul Allah.

Kuucapkan salam atas kalian

ألسـلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Wahai kalian yang telah Ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dien, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Allah.


Sepeninggal Sulaiman Ibnu Abdul Malik, Khalifah ketujuh dari Bani Ummayah, rakyat memba’it Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah sebagai penerus dinasti yang dibangun oleh Shahabi Mu’awiyah bin Abu Sofyan.

Sebelum menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz pernah menjabat gubernur Madinah. Beliau mempunyai beberapa orang anak, diantaranya Abdul Malik Ibnu Umar. Dia masih muda, tetapi ketaqwaan dan kezuhudannya senantiasa menghiasai lembaran hidupnya.

Suatu saat, ketika Umar sampai di rumah sepulang mengurusi pemakaman jenazah Sulaiman Ibnul Abdul Malik, datanglah Abdul Malik menghampirinya. Ia bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, gerangan apakah yang mendorong anda membaringkan diri di siang bolong ini?”

Umar bin Abdul Aziz tersentak dan kaget tatkala sang putra memanggilnya dengan Amirul Mukminin, bukan dengan panggilan ayah sebagaimana biasanya. Ini mengisyaratkan bahawa puteranya ingin mempertanyakan tanggung jawab ayahnya sebagai pemimpin negara bukan sebagai kepala keluarga.

“Aku letih dan butuh isthirahat!”, jawab sang ayah.

“Pantaskah anda beristhirahat padahal banyak rakyat yang tertindas?”, kata sang anak dengan bijak.

“Wahai anakku,“ Umar bin Abdul Aziz , “semalaman suntuk aku menjaga pamanmu. Nanti setelah shalat dzuhur aku akan mengembalikan hak-hak orang yang teraniaya.”

“Wahai Amirul Mukminin”, Abdul Malik berkata, “Siapakah yang menjamin anda hidup sampai dzuhur, jika Allah menaqdirkanmu mati sekarang?”

Mendengar ucapan anaknya tersebut, Umar semakin terperangah. Beliau memerintahkan anaknya mendekat, maka diciumlah anak itu sembari berkata,” Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan padaku anak yang telah membuatku menegakkan agama.”

Selanjutnya beliau peruntahkan juru bicaranya mengumumkan kepada seluruh rakyat,“ Barangsiapa yang merasa terzhalimi, hendaknya mengadukan nasibnya kepada khalifah!”

Luar biasa . Nasihat itu begitu akurat. Datang pada saat yang tepat. Maka catat besar-besar nasihat ini, kalau perlu ditempelkan di ruang belajar dan ruang kerjamu.

“Siapakah yang menjamin anda hidup sampai dzuhur, jika Allah menaqdirkanmu mati sekarang?”




Ya Allah….
janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."


سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ


Teruntuk saudara-saudaraku yang telah Ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dien, dan Nabi Muhammad sebagai Nabi Rasul Allah.

Kuucapkan salam penutup atas kalian


وألسـلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Sumber :
Deadline Your Life Ingat Mati Agar Hidup Lebih Berarti. Solikhin Abu ‘Izzuddin; Solo; Pustaka Iltizam; 2007

Selasa, 08 Desember 2009

Promo Harga Pin Bulan Desember

Kami RAFI Computer menawarkan jasa pembuatan Pin / Bros. Pin yang kami gunakan menggunakan metode printing, sehingga desain Pin dapat berbeda-beda.

Harga pin disesuaikan dengan jumlah pemesanan.

1 - 20 pcs = Rp. 3000, 00
21 - 50 pcs = Rp. 2450,00
51 - 80 pcs = Rp. 2000, 00
80 - 100 pcs = Rp. 1700, 00
101 - 150 pcs = Rp. 1500, 00
diatas 1000 pcs = Rp. 1000, 00

harga tidak mengikat, harga diatas adalah harga nett tertinggi.

Bisa pesan satuan / banyak dengan desain yang berbeda-beda

Kualitas terjaga, menggunakan media yang berkualitas.

Dapat ditambahkan glitter.
Negara Asal:Indonesia
Harga:disesuaikan dengan jumlah
Cara Pembayaran:Transfer Bank (T/T) / datang ke Jl.Kiaracondong No.346 RAFI COMPUTER Telp.022 70977774 / 085220385302
Kemas & Pengiriman:plastik
Senin, 07 Desember 2009

Penjualan PIN dan gantungan bergambar murah di Bandung

Kami dari RAFI Computer, memProduksi pin, menjual bahan pin.
Gantungan Kunci pembuka tutup botol 44mm & 58mm, Pin Magnet pembuka botol 44mm,

About Me

Foto Saya
RAFI COMPUTER
Lihat profil lengkapku

Daftar Blog Saya

Daftar Blog Saya

Anggota